(Dari Buku “LUKA DALAM BARA”, hlm. 18)
Kalau
kamu memandangku sekilas, kamu akan melihatku tak ubahnya ombak yang hanya
menjalani kewajibannya sebagai ombak: muncul karena tiupan angin, bergerak
mendekati pantai dengan kecepatan biasa, nyaris tanpa ambisi, lalu pecah
seadanya menjadi buih karena memang harus pecah.
Namun,
jika kamu bertahan duduk di tepi pantai lebih lama lagi dan memperhatikan
bagaimana aku bergerak dari waktu ke waktu, kamu akan melihatku sebagai ombak
yang melakukan tugas seluruh macam ombak: meski terkadang pantai yang kuhampiri
tidak memberi apa-apa selain keheningan dan tidak melakukan apa-apa selain
memecah diriku, aku akan terus ada dan datang dan tidak pernah berhenti untuk
mencapai dan menggapainya.
Aku
ombak yang akan terus mendekatimu, apapun yang kamu lakukan terhadapku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar