Kamis, 20 September 2018

Tetap Jalan

Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad


Tak ada yang lebih menggembirakan, daripada keberhasilan menemukan setelah mengalami kehilangan. Tak ada yang lebih melegakan, ketimbang mampu merasakan “adanya ganti” setelah merasa “ada yang terambil”. Dan suatu kesyukuran yang dalam, apabila “yang menggantikan” itu ternyata lebih baik dari “yang kemarin berlalu”.

Atas terjadinya sebuah luka, mungkin kamu butuh alasan. Tetapi terkadang sesuatu terjadi begitu saja, bahkan tanpa sedikitpun pernah dijelaskan. Dan melewati masa peralihan, bagi beberapa orang adalah kesulitan. Tapi ketimbang membiarkan keterpurukan makin menjadi dan bertambah, selalu ada pilihan untuk membuat langkah.

Yang penting, tetap jalan. Nanti kamu akan paham, bahwa mengizinkan cerita kelam itu terus-menerus menghancurkanmu dan membuatmu jadi kehilangan diri sendiri, adalah sebuah kerugian. Yang penting, tetap jalan. Nanti kamu akan tahu, hidupmu sangat luas dan tidak pantas jika seorang pencipta luka dan perusak kepercayaan, masih kau kaitkan dengan lanjutan cerita baru yang akan kau gulirkan. Yang penting tetap jalan. Kesembuhan adalah datang dari dalam dirimu. Yang penting tetap jalan. Nanti akan kamu rasakan, bahwa berbaliknya hati—misalnya dari menyayangi menjadi membenci—adalah kuasa Tuhan yang ternyata dengan mudah dapat terjadi walau sedikitpun tak pernah kau sangka dan kau niatkan. Dan sesulit apapun membuka hati kembali, yang penting tetap jalan. “Kekosongan”-mu akan menemukan pengisinya, jika kamu tetap jalan.

Dan satu lagi kesyukuran yang dalam, jika sosok pengganti yang kau temukan itu—jika dibandingkan dengan yang berlalu sebelumnya—ternyata bisa lebih membahagiakanmu dan dengannya, kamu bisa lebih menemukan dirimu sendiri.



Kamis, 20 September 2018, Pukul 15.21 WIB
Ruang Procurement, Indomaret Building, Kemayoran, Jakarta Pusat



Sabtu, 25 Agustus 2018

Stop Radikalisme, Junjung Tinggi Nilai Humanisme


Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad



Semangat untuk bertarung mencegah penyebaran radikalisme harus terus digelorakan. Terlebih, generasi muda yang merupakan jantung pertahanan bangsa, sangat rentan terpapar paham radikal. Paham-paham itu apabila ditanamkan dan terus-menerus dipupuk, tentu akan sangat berbahaya karena dapat berujung pada tindak kekerasan bahkan terorisme.
Radikalisme dan terorisme tidak hanya persoalan ideologi agama, tetapi juga politik dan konflik antar umat beragama. Paham radikal mampu mengganggu dan memengaruhi pemikiran rasional, dan berujung destruktif atau dapat membahayakan ketenangan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengupayakan terhindarnya anak-anak dan generasi muda dari pemahaman-pemahaman yang dapat mengancam keutuhan bangsa. Dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah lingkungan sosial pertama yang membentuk karakter dan mental anak. Setiap anggota keluarga wajib membentengi keluarganya dengan pemahaman agama yang baik, lurus, dan penuh kedamaian. Bukan nilai-nilai agama yang sebatas tekstual, kaku, dan berpaham sempit. Kemudian di institusi pendidikan, wawasan tentang kebangsaan dan nilai-nilai toleransi juga harus terus diberikan, agar setiap peserta didik dapat senantiasa menumbuhkan jiwa nasionalisme dan cinta NKRI, mensyukuri keberagaman, dan melahirkan kontribusi nyata untuk memelihara perdamaian. Peran masyarakat yang berkoordinasi dengan instansi terkait juga diperlukan. Kewaspadaan dan selalu mengenali lingkungan sekitar, adalah bentuk upaya yang dapat dilakukan—sebab yang mengkhawatirkan adalah apabila gerakan-gerakan tersebut terjadi secara cepat dan diam-diam—selain juga aktif melaporkan jika terdeteksi penyebaran paham intoleran dan radikal.
Semua agama mengajarkan tentang kebaikan dan tentunya, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Terus hidupkan energi untuk memberantas segala bentuk permusuhan dan perpecahan, radikalisme dan terorisme, demi kokohnya persaudaraan dan tegaknya NKRI.




Bijak Ber-Sosial Media, Demi Kedamaian yang Tetap Terpelihara


Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad



Di era komunikasi digital, media sosial menjadi alat yang efektif untuk berbagi informasi dan pengetahuan, di samping juga menjadi lahan di mana hasutan permusuhan dan kebencian bisa dengan mudah tumbuh subur. Media sosial sebagai ruang publik, adalah instrumen yang tepat untuk bisa menyentuh hati masyarakat tentang pentingnya mengokohkan persaudaraan dan mencipta nilai-nilai kedamaian. Sangat disayangkan tentunya, di saat media sosial itu dipergunakan untuk menyebarkan propaganda yang dapat mencederai kebersamaan. Terlebih Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagamaan, sehingga juga rentan dengan munculnya gangguan dalam keberlangsungan sebuah persatuan.
Salah satu yang sering terjadi adalah ajang dukung-mendukung yang dilakukan demi memenangkan pasangan calon favorit dalam pemilihan umum atau pilkada. Melalui media, semua informasi mengenai itu masuk ke lapisan masyarakat dengan bebas. Tak jarang pula, bentuk dukungan gencar dengan adanya usaha untuk menjelek-jelekkan pasangan calon lawan, dan memuat unsur rasisme serta narsistik. Dan tidak hanya dalam masa kampanye, bahkan beberapa tahun setelah terjadinya pemilihan pun masih sering dijumpai pengguna-pengguna medsos yang hobi dalam mencari kelemahan calon yang tidak didukungnya, sehingga tak jarang membuat kerenggangan dan ketegangan dalam proses sosial terus berlanjut.
Setiap ranah atau kondisi yang rentan untuk terjadinya konflik sosial, memang sangat mudah dimasuki kelompok radikal dan oknum-oknum pemecah-belah. Keadaan seperti itu sering dimanfaatkan oleh media-media yang tidak bertanggung jawab, yang bukannya menuntun masyarakat dengan opini yang cerdas dan membangun, namun malah ikut memperkeruh dengan menyuguhkan opini yang sifatnya merenggangkan persatuan. Oleh karena itu, satu hal yang penting adalah internet atau dunia maya haruslah dikuasai oleh penggunanya, bukan malah sebaliknya. Penerima informasi dituntut untuk selalu cerdas, dan proaktif menghalau serangan hoax, berita yang memutar-balikkan fakta, dan konten bermuatan kebencian. Salah satu cara untuk melawan hal-hal tersebut adalah dengan produktif dalam menyuguhkan konten media yang positif.
Media sosial ada dan kita dapat memanfaatkannya untuk saling menyapa, bukan sibuk mencela. Media sosial adalah instrumen untuk kita membagikan pesan baik, bukan melancarkan propaganda yang bersifat menghujat dan menghardik. Oleh karena itu sebagai pengguna media sosial, terlebih pengguna aktif, hendaknya energi untuk merawat kedamaian itu ditumbuhkan di dalam diri masing-masing. Warnai akun-akun sosial media-mu dengan posting-an yang selalu dilatarbelakangi pembuatannya dengan rasa tanggung jawab sebagai manusia yang wajib memancarkan nilai kebaikan, dan sebagai warga negara yang juga harus memelihara persatuan. Hidupi sosial media itu dengan konten-konten positif, yang mampu melawan serangan permusuhan dan radikalisme. Sikap mengedepankan validitas dan keakuratan suatu informasi juga diperlukan, sebelum mencerna lebih jauh informasi tersebut dan mengaplikasikannya ke dalam pola pemahaman, juga sebelum meneruskan hal tersebut kepada orang lain. Sikap bijak dalam memanfaatkan sosial media harus menjadi perhatian dan kesadaran pribadi, demi mendukung penuh kedamaian di dunia maya yang untuk tetap tegak berdiri.





#ForgiveYourselfandMovingForward


Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad



Berdamai dengan apa yang datang dan apa yang menyusut.

Berdamai dengan apa yang memberi kesejukan dan apa yang meniadakan.

Berdamai dengan apa yang memicu sampai dan apa yang memutus sampai.

Berdamai dengan “geliat” yang menghidupkan dan “penghalang” yang mengosongkan.




Tengoklah ke Dalam


Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad




Cermin adalah perlu
Karena searus ujaranmu akan membekas di hati yang menangkap adanya getar hujatan
Karena hati mampu meronta dan mengingat lama, segala tutur yang mencipta luka
Maka, tengoklah ke dalam
Sekali lagi
Sebelum itu

Cermin adalah perlu
Karena sebentuk penilaianmu tentang kebaikan, tak semestinya malah menyibukanmu dalam ruang-ruang vonis dan kualitas yang hanya diketahui oleh-Nya
Karena pemberian nasihat, akan lebih indah jika bersamaan dengannya, gairah memelihara kebaikan-mu juga sambil dijalankan
Maka, tengoklah ke dalam
Sekali lagi
Sebelum itu

Cermin adalah perlu
Karena terkadang nafsu membuat dirimu merasa sudah berubah lebih baik, padahal nyatanya jalan di tempat
Karena sebuah niat untuk baik dan memperbaiki, meski awalnya bertabur ketulusan, dapat tercederai oleh godaan
Maka, tengoklah ke dalam
Sekali lagi
Sebelum itu




"Metafora Ombak (#2)", Karya Bernard Batubara


(Dari Buku “LUKA DALAM BARA”, hlm. 19)





Pandanglah aku sebagai ombak. Dan, kalau kamu adalah seorang peselancar, setiap kali kamu berniat mengendaraiku, aku akan menyarankanmu untuk berpikir ulang. Karena kamu harus tahu, bahwa aku ombak yang tidak mudah melepaskan.

Kalau kamu sudah memilih untuk menghampiri, apalagi mengendarai aku, aku ombak yang tak akan pernah mengizinkanmu kembali ke pantai untuk berselancar lagi bersama ombak yang lain.

Aku akan membuatmu jatuh dari papan selancar hanya agar kamu tidak bisa pergi ke mana-mana, selain terus bersamaku. Aku akan memilikimu selamanya. Aku akan memerangkapmu selamanya. Aku akan menarik, menenggelamkanmu hingga ke laut terdalam.




"Metafora Ombak", Karya Bernard Batubara


(Dari Buku “LUKA DALAM BARA”, hlm. 18)




Kalau kamu memandangku sekilas, kamu akan melihatku tak ubahnya ombak yang hanya menjalani kewajibannya sebagai ombak: muncul karena tiupan angin, bergerak mendekati pantai dengan kecepatan biasa, nyaris tanpa ambisi, lalu pecah seadanya menjadi buih karena memang harus pecah.

Namun, jika kamu bertahan duduk di tepi pantai lebih lama lagi dan memperhatikan bagaimana aku bergerak dari waktu ke waktu, kamu akan melihatku sebagai ombak yang melakukan tugas seluruh macam ombak: meski terkadang pantai yang kuhampiri tidak memberi apa-apa selain keheningan dan tidak melakukan apa-apa selain memecah diriku, aku akan terus ada dan datang dan tidak pernah berhenti untuk mencapai dan menggapainya.

Aku ombak yang akan terus mendekatimu, apapun yang kamu lakukan terhadapku.





Yang Satu, Yang Satunya Lagi


Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad



Yang satu meninggalkan, yang satunya lagi ditinggalkan.

Yang satu menemukan setelah kehilangan, yang satunya lagi masih kehilangan setelah menemukan, walau pastinya nanti akan kembali menemukan.

Dulu, yang satu menghancurkan yang berusaha dibangun lebih tinggi, saat ini, yang satunya lagi tetap membangunnya untuk siapapun yang berniat ikut menguatkan tanpa sedikitpun ada niat menghancurkan.

Saat ini, yang satu terlihat baik-baik saja, oleh sebab itu yang satunya lagi tidak ingin terus bersakit-sakit.

Sebagaimana yang satu berbahagia dengan pilihannya apapun muasal dari pilihannya, yang satunya lagi juga akan belajar berbahagia, tanpa menghancurkan yang telah dibentuk siapa saja, tanpa merebut bahagia yang dipersiapkan siapa saja.



November 2017
Jakarta Pusat