Sabtu, 25 Agustus 2018

Bijak Ber-Sosial Media, Demi Kedamaian yang Tetap Terpelihara


Oleh:
Rizki Ahmad Irsyad



Di era komunikasi digital, media sosial menjadi alat yang efektif untuk berbagi informasi dan pengetahuan, di samping juga menjadi lahan di mana hasutan permusuhan dan kebencian bisa dengan mudah tumbuh subur. Media sosial sebagai ruang publik, adalah instrumen yang tepat untuk bisa menyentuh hati masyarakat tentang pentingnya mengokohkan persaudaraan dan mencipta nilai-nilai kedamaian. Sangat disayangkan tentunya, di saat media sosial itu dipergunakan untuk menyebarkan propaganda yang dapat mencederai kebersamaan. Terlebih Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagamaan, sehingga juga rentan dengan munculnya gangguan dalam keberlangsungan sebuah persatuan.
Salah satu yang sering terjadi adalah ajang dukung-mendukung yang dilakukan demi memenangkan pasangan calon favorit dalam pemilihan umum atau pilkada. Melalui media, semua informasi mengenai itu masuk ke lapisan masyarakat dengan bebas. Tak jarang pula, bentuk dukungan gencar dengan adanya usaha untuk menjelek-jelekkan pasangan calon lawan, dan memuat unsur rasisme serta narsistik. Dan tidak hanya dalam masa kampanye, bahkan beberapa tahun setelah terjadinya pemilihan pun masih sering dijumpai pengguna-pengguna medsos yang hobi dalam mencari kelemahan calon yang tidak didukungnya, sehingga tak jarang membuat kerenggangan dan ketegangan dalam proses sosial terus berlanjut.
Setiap ranah atau kondisi yang rentan untuk terjadinya konflik sosial, memang sangat mudah dimasuki kelompok radikal dan oknum-oknum pemecah-belah. Keadaan seperti itu sering dimanfaatkan oleh media-media yang tidak bertanggung jawab, yang bukannya menuntun masyarakat dengan opini yang cerdas dan membangun, namun malah ikut memperkeruh dengan menyuguhkan opini yang sifatnya merenggangkan persatuan. Oleh karena itu, satu hal yang penting adalah internet atau dunia maya haruslah dikuasai oleh penggunanya, bukan malah sebaliknya. Penerima informasi dituntut untuk selalu cerdas, dan proaktif menghalau serangan hoax, berita yang memutar-balikkan fakta, dan konten bermuatan kebencian. Salah satu cara untuk melawan hal-hal tersebut adalah dengan produktif dalam menyuguhkan konten media yang positif.
Media sosial ada dan kita dapat memanfaatkannya untuk saling menyapa, bukan sibuk mencela. Media sosial adalah instrumen untuk kita membagikan pesan baik, bukan melancarkan propaganda yang bersifat menghujat dan menghardik. Oleh karena itu sebagai pengguna media sosial, terlebih pengguna aktif, hendaknya energi untuk merawat kedamaian itu ditumbuhkan di dalam diri masing-masing. Warnai akun-akun sosial media-mu dengan posting-an yang selalu dilatarbelakangi pembuatannya dengan rasa tanggung jawab sebagai manusia yang wajib memancarkan nilai kebaikan, dan sebagai warga negara yang juga harus memelihara persatuan. Hidupi sosial media itu dengan konten-konten positif, yang mampu melawan serangan permusuhan dan radikalisme. Sikap mengedepankan validitas dan keakuratan suatu informasi juga diperlukan, sebelum mencerna lebih jauh informasi tersebut dan mengaplikasikannya ke dalam pola pemahaman, juga sebelum meneruskan hal tersebut kepada orang lain. Sikap bijak dalam memanfaatkan sosial media harus menjadi perhatian dan kesadaran pribadi, demi mendukung penuh kedamaian di dunia maya yang untuk tetap tegak berdiri.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar