Oleh:
Rizki
Ahmad Irsyad
Di era komunikasi
digital, media sosial menjadi alat yang efektif untuk berbagi informasi dan
pengetahuan, di samping juga menjadi lahan di mana hasutan permusuhan dan
kebencian bisa dengan mudah tumbuh subur. Media sosial sebagai ruang publik, adalah
instrumen yang tepat untuk bisa menyentuh hati masyarakat tentang pentingnya
mengokohkan persaudaraan dan mencipta nilai-nilai kedamaian. Sangat disayangkan
tentunya, di saat media sosial itu dipergunakan untuk menyebarkan propaganda
yang dapat mencederai kebersamaan. Terlebih Indonesia adalah negara yang kaya
akan keberagamaan, sehingga juga rentan dengan munculnya gangguan dalam
keberlangsungan sebuah persatuan.
Salah satu yang
sering terjadi adalah ajang dukung-mendukung yang dilakukan demi memenangkan
pasangan calon favorit dalam pemilihan umum atau pilkada. Melalui media, semua
informasi mengenai itu masuk ke lapisan masyarakat dengan bebas. Tak jarang
pula, bentuk dukungan gencar dengan adanya usaha untuk menjelek-jelekkan pasangan
calon lawan, dan memuat unsur rasisme serta narsistik. Dan tidak hanya dalam
masa kampanye, bahkan beberapa tahun setelah terjadinya pemilihan pun masih
sering dijumpai pengguna-pengguna medsos yang hobi dalam mencari kelemahan
calon yang tidak didukungnya, sehingga tak jarang membuat kerenggangan dan
ketegangan dalam proses sosial terus berlanjut.
Setiap ranah atau
kondisi yang rentan untuk terjadinya konflik sosial, memang sangat mudah dimasuki
kelompok radikal dan oknum-oknum pemecah-belah. Keadaan seperti itu sering
dimanfaatkan oleh media-media yang tidak bertanggung jawab, yang bukannya
menuntun masyarakat dengan opini yang cerdas dan membangun, namun malah ikut
memperkeruh dengan menyuguhkan opini yang sifatnya merenggangkan persatuan.
Oleh karena itu, satu hal yang penting adalah internet atau dunia maya haruslah
dikuasai oleh penggunanya, bukan malah sebaliknya. Penerima informasi dituntut
untuk selalu cerdas, dan proaktif menghalau serangan hoax, berita yang memutar-balikkan fakta, dan konten bermuatan kebencian. Salah satu cara untuk melawan
hal-hal tersebut adalah dengan produktif dalam menyuguhkan konten media yang positif.
Media sosial ada dan
kita dapat memanfaatkannya untuk saling menyapa, bukan sibuk mencela. Media
sosial adalah instrumen untuk kita membagikan pesan baik, bukan melancarkan
propaganda yang bersifat menghujat dan menghardik. Oleh karena itu sebagai
pengguna media sosial, terlebih pengguna aktif, hendaknya energi untuk merawat
kedamaian itu ditumbuhkan di dalam diri masing-masing. Warnai akun-akun sosial
media-mu dengan posting-an yang
selalu dilatarbelakangi pembuatannya dengan rasa tanggung jawab sebagai manusia
yang wajib memancarkan nilai kebaikan, dan sebagai warga negara yang juga harus
memelihara persatuan. Hidupi sosial media itu dengan konten-konten positif,
yang mampu melawan serangan permusuhan dan radikalisme. Sikap mengedepankan
validitas dan keakuratan suatu informasi juga diperlukan, sebelum mencerna
lebih jauh informasi tersebut dan mengaplikasikannya ke dalam pola pemahaman,
juga sebelum meneruskan hal tersebut kepada orang lain. Sikap bijak dalam
memanfaatkan sosial media harus menjadi perhatian dan kesadaran pribadi, demi
mendukung penuh kedamaian di dunia maya yang untuk tetap tegak berdiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar